Tampilkan postingan dengan label THE STORY of US. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label THE STORY of US. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2013

MINE #1

pagi - pagi ini aku terbangun dari tidurku dan kucuci wajahku dengan air. kupandang pemandangan pagi yang begitu indah padahal ku tinggal di apartemen di lantai 13 ini. saat aku tersadar bahwa ini sudah jam 10! huwaa... aku terlambat masuk sekolah. langsung aku mandi, ganti baju, sarapan. lalu ku pergi ke sekolah. ternyata sesampainy di sekolah tidak ada siapapun di sana. lalu ada orang berjalan memanggilku.

orang itu: "hey taylor! kenapa kamu ke sekolah? sekarang kan hari libur"
taylor: "ya ampun! aku lupa, kan hari ini hari minggu!"
orang itu: "ya sudah sana pulang lagi!"
taylor: "iya pak."

lalu ku pulang dengan berjalan kaki. tak sengaja ku bertemu pria yang satu sekolah denganku, namanya toby. lalu dia menyapaku.

toby: "hey taylor! kenapa kamu ke sekolah?" (tanya dia)
taylor: "hm... gini, tadi pagi ak bangun udah jam 7. jadi aku siap - siap terus aku ke sekolah, tapi aku lupa padahal hari ini hari libur..."
toby: "oh gitu... haha, ada - ada aja kamu. kalo gitu, gimana kalo kita jalan - jalan?"
taylor: "hm... gimana ya?? yaudah deh!"
toby: "ayo..."
taylor: "eh, tapi kemana perginya?"
toby: "ke taman, mau gak?"
taylor: "ok. eh tapi aku harus pulang dulu mau ganti baju. masa pake baju sekolah."
toby: "oh iya. yaudah nanti kita janjian jam 3 sore. ok?"
taylor: "ok deh. oh iya tamannya yang dimana?"
toby: "taman di tengah kota tuh..."
taylor: "siip. ok deh!" (sambil memberi senyuman)

aku menghela nafas dan pulang ke apartemenku. sesampainya aku di apartemen aku langsung menaruh tasku dan membuka macbook ku. ku buka twitter dan ngetweet: "huft... hari yang aneh." tidak lama ku bermain macbookku lalu ku tutup dan baca buku, aku memang kutu buku, hehe. satu jam baca buku lalu aku tidur siang dua jam, segitu udah cukup. tak terasa sudah jam 2.45! aku cepat siap - siap dan pergi ke taman yang di janjikan bersama toby. sebenarnya aku hanya sedikit malas untuk bertemu toby, karena toby itu sebenarnya anak yang sedikit nakal. hehe, tapi ga apa - apa lah.

sesampainya di taman ternyata...

mau tau lanjutan ceritanya?? nanti aku post lagi ya kalo ada waktu! :-)

Jumat, 03 Mei 2013

I Still Love You #2


Aku terus memperhatikan sikap Zac. "Aku rasa dia sempurna. Dia bukanlah playboy yang Claire maksud. Dia anak baik " Zac anak baik,menurutku. Tapi kenapa teman-teman mengatakan Zac anak nakal ? Ya,emang sikap nya memang sikap 'anak nakal' aku tahu.Tapi, hatiku berkata : Zac itu pasanganku ! Ga boleh ada yang merebut Zac dari hidupku !. Aku bingung. Aku belum mengatakan kepada Abby bahwa aku menyukai Zac. Aku belum berani. Pasti Abs tertawa dan berkata :"Haha ! Aku masih akan mencari kecocokan diantara kalian berdua sampai aku mati. Apa cocok nya kalian itu ? Haha, kau lucu,Tay !" Lihat saja nanti saat aku memberi tahu ini pada Abs ! Aku tidak ingin memberi tahu ini pada Abs,tapi aku Harus ! Dia sahabatku ! Oh, Tuhan.. Berilah aku dan Zac  kecocokan x_x
.
Zac.Zac.Zac. Itu saja yang ada dalam kepalaku. Aku senyum-senyum sendiri dari tadi membayangkan aku bertabrakan dengan Zac."Kamu kenapa , Tay ?" Tanya Abby lembut. "Um.. Eh ?" Kataku kaget karena Abby telah berhasil membuytarkan lamunanku. "Eng..Enggak,kok ! Haha " kataku sambil cengingisan. Abby memasang wajah sepert : kamu-sudah-gila-tay atau tidak-ada-orang-yang-lebih-gila-dari-kamu . " Aku hanya senang.Andai itu terjadi. Andai kita cocok" kataku sambil menghadap ke arah langit. "Maksudmu ?" Tanya Abby bingung. "Um.." aku menunduk. "Aku.." kataku sambil memainkan jari. "Kamu kenapa ?" tanya Abby.Rupa nya ia masih bingung. "Aku suka sama seseorang,Abs" kataku. "Whoa ?! Siapa ?" kata Abby dengan wajah seperti ia akan memenangkan kuis berhadiah ribuan iPad, Jutaan rupiah uang tunai dan  rumah super mewah di jalanan super elite. "Atur wajahmu" kataku. "Jangan kaget" lanjutku. Abby mulai mengatur wajahnya. "Sekarang,tebak.. ! Aku akan jawab 'ya'  jika kamu benar !"kataku. "Peter?" kata Abby,aku menggeleng. "Louis?Jake?Harry?" tanya Abs lagi. "Bukan" jawabku simple. "Andy?Adam?William?Tony?" tanya Abs lagi. "Bukan." jawabku lagi. "Ayolah Tay,berilah aku kunci !" kata Abs. "Rambut nya hitam,kok" kataku.Aku lupa jika semua anak berambut hitam telah disebutkan Abby kecuali Zac dan Zayn. "Zayn !" terka nya. "Bukan,Abs!" Tay keceplosan."Z..Zac ? Kamu suka Zac?" tanya Abby. "Um, aku.. gatau" jawabku. "Tay,itu wajar..." kata Abs. "Kamu gak kaget ya ? Syukurlah.." kataku lagi. "Enggak, ngapain kaget ! Aku tahu,dari muka kalian tuh 180 derajat ga cocok.Tapi dari hati kalian pasti ada kecocokan." kata Abby. Kata-kata itu begitu indah di hatiku. "Makasih,Abs"
♥♥♥♥
Pelajaran Sejarah
"Hari ini saya akan membagikan hasil ulangan." ujar Mr.James. Aku sedikit mendesah.Aku tak pandai di bidang sejarah. Aku tak yakin akan mendapat nilai diatas 75,Uh ! Sial ! "Leah 87,Myka 91, Harry 77 , Abigail 85 , Louis 80 , Theressa 70, Jake 65, Adam 88, Peter 59,Taylor 72,Zac 85..." Oke.Nialiku 72 ? Itu parah ! Sudahlah,lupakan..! Aku-memang-membenci-sejarah !
Aku mengambil kertas ulanganku,Zac juga. "Sreet" kertasku jatuh dari meja.Aku mengambil nya.Saat aku berdiri,Zac tampak terpeleset ke arahku.Aku memundurkan wajahku.Oh,matanya..Dia membuatku pingsan. "Apaan,sih ?" tanya Zac sambil tersenyum. "Lho,bukan nya kamu tadi yang terpeleset ke arahku ya ?" tanyaku. "Lupakan" ujar Zac. Wajah Zac lucu saat tersenyum.Membuatku tersenyum juga. "Everytime You Smile,I Smile"   aku berkata pelan,lalu aku kembali duduk di bangkuku.
♥♥♥♥
Aku berjalan menuju kamar. "Tay!" panggil Mom saat aku berada di tangga. "Apa,mom?" tanyaku. "Mom akan memasukkan mu di LBB " ujar Mom. "Ha? LBB? Aduh , mom.. Ngga usah ! Aku ntar capek !" Ujarku memelas.  "Tapi mom nggak maksa kamu,sayang" kata Mom.Tapi...Tuing! Ingatlah aku ! Zac itu les di salah satu LBB.  "Eh,mom.. Yahudah deh ! Aku mau les di LBB !"kataku semangat. Mom memasang wajah anak-ini-seperti-orang-terkena-petir ! "Hari ini aja ya mom daftar nya ? Ya ? Pleasee" ujarku."Gantilah bajumu !" ujar mom. Akupun berganti baju.
♥♥♥
Di LBB:
"Mom, aku di kelas yang ini boleh ?" tanyaku sambil menunjuk kelas dimana Zac berada. "Zac ? itu bukan nya teman kamu yang nakal itu ya ? Jangan,Taylor!" Cegah mom... 'Ouch' Rasanya sakiiit banget :'(

I Still Love You #1


BEL masuk baru saja berbunyi.Semua anak berlarian memasuki kelas masing-masing.Aku yang sedari tadi duduk di bangku hanya memandang bosan suasana seperti ini.Adam selaku ketua kelas maju ke depan untuk memimpin doa."Doa mulai !" Perintahnya. Kamipun berdoa dengan khidmat.Harusnya,sih.. Zac dan Zayn mengobrol di tengah-tengah kami doa.Risih tau gak sih ? Lagi doa kok malah ngobrol ? Mentang-mentang nggak ada gurunya,gitu ? Dasar,bandel! "Doa selesai!" perintah Adam lagi.Kami pun meng-aminkan doa kita masing-masing.Kira-kira 5 menit setelah doa selesai, Mr.George memasuki ruang kelas ku untuk mengajar materi Sejarah. "Buka PR  kalian yang saya beri minggu lalu !" kata Mr.George. Oh no ! aku lupa ngerjain !
__
Aku dan Zac berada di tengah lapangan dengan mengangkat satu kaki sejak 55 menit lalu. Ya ! Aku dan Zac nggak ngerjain PR. "Panas,ah!" kataku. "Ih, dasar.!Taylor manja ! Cuma bisa kepanasan doang!Manja!" kata Zac. "Enggak! Aku nggak manja,tuh !!
Aku kuat !" Aku membela diri dari olokan Zac. "Teet!Teet!" aku rasa waktu hukuman ini sudah berakhir.
_
"Gimana tadi ? Panas,tay?Hehe"Ledek Abigail padaku. "Banget,Abs!" jawabku judes. "Manalagi ada si Zac! Ih ! Risih banget !" kataku. "Sabar,tay.." kata Abigail lagi. "Aku ke kantin duluan ya ? Laper,nih!" kata Abigail lagi. "Oke" kataku.Abby pun berlari menuju kantin.
Aku melihat Claire duduk sendiri di bangku nya sambil mengutak-utik laptop nya."Hai,Claire!" sapaku. "Hai Tay !" sapa nya balik. Muka manis nya menghadap ke arahku. Bibir kecil nya tersenyum. "Kamu sendirian ya? Bosen?" Tanya Claire. "Ya, begitulah.. hehe" kataku."Gak mau nyalin catatan sejarahku?" Tanya Claire. "Mau!" ujarku manja. "Tay, aku mau ngomong sama kamu" kata Claire. "Apa?" kataku. "Dulu aku itu suka sama Zac" ujar Claire. "Terus?" tanyaku. "Zac dulu juga suka sama aku..Tapi sekarang aku benci banget sama Zac" kata Claire. "Lah kenapa?" tanyaku. "2 bulan setelah dia bilang dia suka aku,dia digosipin sama Emily.Dan Zac bener-bener suka sama Emily ! Cih, dasar playboy !" ujar Claire marah. "Haha.! Sabar,Claire!"ujarku.
____
Entah mengapa,setelah Claire bilang gitu ke aku, aku jadi suka Zac...

I Keep My Eyes Open #3



Pagi ini aku kesekolah dengan ekstramalas, rasanya aku kurang tidur, semalem aku nggak bisa tidur mikirin Meilane, Melilene, ah apalah itu namanya. Aku jalan dengan loyo di koridor, persis kayak spageti. Hmm, karma berlaku yah? Aku kan sering ngatain Greyson spageti, ujung-ujungnya aku juga jadi loyo kayak spageti -..-
“Taylor! Percepat sedikit jalanmu!” seru seseorang dibelakangku. Abigail.
“Hei Abigail! Lewati saja, aku ngantuk banget.”
“Kamu gak akan loyo lagi kalau ketemu David Collin Clidford. Dia kakak kelas kita, anak kelas 11, tapi kecenya minta ampun. Dia anak baru. Dari fotonya aja ketauan kecenya, dia tuh ya..”
“Cukup Abigail! Mana dia?!”
“Di kantin,”

Aku segera berbalik arah menuju kantin, bukan karena pengen liat muka david, atau mau flirting. Dia kan orang kemarin, yang menceritakanku tentang orangtuaku!
Aku memasuki kantin yang padat dan menerobos manusia-manusia yang penuh dan sesak itu.
Aku berhasil menerobos para mahluk –ceilah- yang pada naksir sama David itu.

“Taylor? Ka.. kamu sekolah disini?” ia agak shock, ketika melihatku. Cewek-cewek lain menatapku kaget. Serem woy serem.
“Baiklah aku pergi…” aku melangkah pergi menjauh. Uh, anak-anak ini, genit amaat!

SKIP FREETIME

Aku melangkah keluar dari kelas bersama Abigail, seperti biasa.
“Kaki gue, Tay, sakiit, manusia yang mau kenalan sama David itu bejibun, tau! Dan kaki gue ketendang-tendang, pegel, sakit. Aww!”
“Salah sendiri nekat! Ayo ah, biar sakitnya ilang, traktir gue aja. Gimana? Setuju?”
“Ihhh!” gerutu Abigail. Aku hanya tersenyum. Tiba-tiba David nongol dari lobang toilet. (itumah lizard di spiderman 3—“) enggaklah, dia nongol dari belakang Abigail, gatau darimana lagi (?)

“Hey girls! Wait, you are taylor, and you are..”
“Abigail!” kata Abigail kesenengan ditanyain David.
“What happens with your feet, Abigail, huh?”
“Your fans. Ahh they’re so crazy, they just made..”
“Guys? Aku nggak mau ganggu, lagian pas banget ada telfon dari Greyson. Tunggu ya!” aku segera berlari ke tempat yang lumayan sepi dan mengangkat telpon dari Greyson.

“Hello Greyson?”
“Taylor!!! Im so happy now! I just got my new iPad2, this is cool, yunno! Finally,”
“Grey. Kamu memang sudah punya iPad2, dengar. Aku yang butuh, bukan kamu. Oke? Puas?”
“Well, Tay, jangan memotong pembicaraan orang, dong! iPad ini dilengkapi aplikasi pelacak, darisono nya. Juga game-game,lagu terbaru, photo editor, lalu..”
“Greyson. Jangan pamer ya, udah ya,”
“Jangan ditutup, Taylor!!!! iPad ini untukmu!! Mom memberikannya untukmu karena nilaimu yang bagus, katanya. Lagian kamu rajin.”
“OMG! Thanks Greyson! Thanks a lot. Sampaikan ke Mrs. Jeanne. Love ya, bye!”

Hey! Mereka nggak seburuk yang kupikirkan. Mereka baik kok, Cuma disiplin. Itu saja sih, sebenernya. Nah nah, sekarang aku bingung nyariin Abigail ama David. Teganya, kok gue ditinggalin -_-
Setelah pusing mencari, ternyata mereka berdua lagi ngobrol di kantin, di kursi paling pojok, hh.. aku nggak mau ngeganggu, sih, tapi sendiri gini, nggak enak juga.

“Guys! Ceritanya aku ditinggalin atau apa?!”
“Sorry yah, aku baru tau kamu ada,” kata Abigail cuek.
“Abigaiiiilll!!!” aku menjambak pelan rambut Abigail.
“Hey Calm down!” jeritnya. Aku hanya tertawa kecil.
Lalu kita pun ngobrol bertiga tentang hal-hal gaje yang nggak penting.

SKIP, SCHOOL’S OVER

“Taylor, aku mau ngomong sama kamu, di Melody Café oke, jam 4. Ini masalah penting.”
“Yaya, awas loh kalo ngaret!”
“Iyaiya!”

Aku pun pulang kerumah. Greyson menyambutku seperti biasa, dengan muka cerahnya.
“Hei Grey!”
“Hei! Umm yeah, this!” ia memberikanku iPad yang ia janjikan tadi siang. “Thanks!” aku memeluk Greyson erat.
“Taylor?”
“Yeah?”
“Don’t leave me, aku sudah menganggapmu kakak sendiri. Tolong jangan pergi,”
Deg. Seketika pikiranku bercampur aduk. Jangan-jangan aku kena kanker, makanya dimanjain sama keluarga Greyson. Aduh. Jangan.
“Hmm… hidupku masih cukup lama kan, Grey?”
“TAYLOR! Kebanyakan nonton drama sih, ini masalah.. masalah.. jangan kembali ke orang tuamu. I miss you here.”
Aku menghela nafas. “Aku belum tahu kepastiannya, tapi nggak usah khawatir soal itu okay? Udah ya aku mau mandi, ada janji sama temen nih!”
“Yaudah sana! Aku mau kerumah Cody ya!”
Setelah mandi, aku berganti baju dengan dress warna peach, flat merah, dan sunglasses, lalu pergi ke Melody Café.

SKIP, Melody Café.

“Taylor?! Lama banget sih, gue udah nunggu tau..” kata David kesel.
“Haha sorry-sorry. Udah ah TTP aja, mau ngomong apa sih?! Sampai harus ketemu disini..”
“Aku mau ngasih beberapa foto Meillenne, ini rumah di desa Meillenne, ini pintu masuknya, ini rainbow forest di Meillenne, ini juga…”
Aku hanya menganga saat Dav memberikan foto-foto Meillenne kepadaku.
“Darimana kau dapat semua ini?”
“Aku.. a.. aku..”
“Kenapa?”
“Aku.. anaknya.. Lord Gacquette.”
Aku tersedak minumanku. “Tenang, Taylor!” kata David sambil tersenyum kecil. “Jadi anak Lord Gacquette biasa saja kok,”
“Kalau begitu kamu primitive dong!”
“Ya enggak lah, aku beda! Aku berusaha lari dari Meillenne, dan aku kabur ke sini, ke Nashville. Aku Cuma mau menjadi remaja amerika biasa, bukan pangeran dari Meillenne yang seperti negeri dongeng itu!” jelasnya panjang x lebar= keliling.
“Ayahmu jahat. Kamu anaknya. Kamu bisa menanganinya sendiri, dan, jangan bawa-bawa aku! Kasihan Greyson tidak punya teman dirumah. Mrs. Jeanne juga pasti sangat marah kalau aku kesana. Kamu ini bagaimana sih!”
“Tay! Jangan marah dulu! Dengar, aku nggak mungkin bisa mencari Stone of Clitth sendirian. Semua orang Meillenne membenciku karena aku dianggap melanggar adat,”
“Adat apa yang kaulanggar?”
“Yah… memakai Jeans, kacamata hitam, main iPad, nonton spongebob, foto-foto pake kamera DSLR, BBMan, membaca komik, memakai sneakers, dan menyanyi lagu yang sedang in,”
Aku tertawa kecil. “Itu keseharian remaja amerika, Dav! Mungkin aku lebih suka doraemon, tapi yah.. berarti Meillenne primitive sekali, dong! Kayak wonderland? Gimana?”
“You’ll see. Aku berbeda, ini karena ibuku dari kalangan orang Amerika biasa. Oiya, nggak sembarang orang bisa masuk Meillenne. Letaknya jauh didalam hutan.. apa gitu lupa. Aku tinggal bersama ibuku di Nashville sekarang, sejak aku remaja.”
“Oh.. baiklah, aku akan tanya Mrs. Jeanne nanti.”

I keep My Eyes Open #2



GREYSON’S P.O.V
Aku memandangi surat itu lagi. Alamat nya tidak terbaca dengan jelas, tulisan sambungnya membuatnya makin tidak jelas lagi. Aku hanya menghela nafas, ini malah akan membuat Taylor tambah sedih. Aku bingung harus ngapain. Ya sudah, aku simpan saja, kertas ini!

TAYLOR’S P.O.V
Sejak Tadi Greyson bersikap dingin padaku. Aneh.
“Grey?”
“Ya, kak?”
“ya hanya saja kenapa kamu terlihat begitu loyo, kayak spageti?-..-“
“Nggak apa-apa, kak! Cuma, yah, ngantuk, ngantuk! Beneran ngantuk! Aku tidur duluan yaa!”
Dasar anak aneh. Kenapa sih anak itu? Ih.  Malam ini aku duduk di tepi jendela menatap bintang dan bulan dilangit. Lagi, aku kepikiran keluargaku. Ih! Banyak banget sih masalahku-,- mulai dari keluarga, sampai pertemanan. Jujur aja aku nggak mau hidupku dramatis begini. Okay man, time to sleep! Bye!


SKIP TOMORROW AT SCHOOL


Seperti biasa aku berjalan di koridor sekolah menuju loker. Sendiri. Aku melihat loker kosong sebelahku ada yang mengisi. Abigail.
“Hei! Kamu pasti Taylor, kan? Kamu, cantik! Padahal kata Brit kamu mukanya kayak penguin balado,”
Rese. Anak ini jujur banget sih. Frontal banget. Niat ngatain atau muji nih?!
“Abigail.. shut up. Aku bukan penguin balado, aku manusia.”
“Aku tahu, kok kalau soal itu. Eh kamu yatim ya?”
Mataku melotot karena perkataan Abigail. Sumpah deh nih anak, cantik, tapi frontalnya itu loh, bikin kesel!
“Abigail?! Niat ngejekin gue ya? Atau apa?”
 “No, sorry kalo aku terlalu blak-blakan hahaha. Btw, masuk kelas yuk!” entah kenapa sejak saat itu, aku dan Abigail makin dekat saja, seperti sahabat gitu, dan kayaknya seisi kelas juga respect-respect aja tuh J

_________________________________________________________________________________________

I wanna stay Up All Night and jump around until we see the sun, I wanna stay up all night and find a girl and te..”
Handphoneku bunyi. Private number. Siapa coba malem-malem gini nelfon?!
“halo,” ucapku malas.
“Ini Taylor Alison Swift? Atau bukan? Anda orangnya?”

Ih. Kayak detektif aja deh. Males gue.
“Datang ke alamat ini –ngasal- sekarang juga! Cepat!”

“Aduh, ini siapa sih?! Ganggu tau malem-malem! Udah ya, mau tidur—“

“Apa?! Tidur?! Tidak, datangi dulu alamat itu, ada sesuatu yang sangat penting!”

Telefon dimatikan. Untung alamatnya gampang. Aku mengambil trench coat dan sepatu boots lalu bergegas pergi tanpa bilang-bilang. Masalahnya akan tambah parah kalau aku bilang. Bisa dimarahi nanti.

Sekitar 15 menitan aku berjalan non-stop, dan itu melelahkan. Aku sampai di tempat tujuan. Ada sebuah bangku taman disitu.

“Taylor Alison Swift.”
“Ya? Kenapa? Ada perlu apa sampai mencariku begitu?”
Aku menengok. Seseorang memakai masker, topi, mantel, sepatu boots, dan kacamata hitam. Aneh. Padahal kan sudah malam begini!
“Haha! Apa pandanganmu nggak aneh pakai kacamata hitam itu? Atau anda buta? Maaf,”
“Aku nggak buta, Ms. Swift! Aku masih normal, kay? Aku kesini karena ada perlu denganmu, orangtuamu, Swift..”
“Orangtuaku?! Dimana mereka sekarang?! Mana adikku?! Kamu siapa?! Kenapa bisa tahu tentang hal itu?!”
“Mereka.. mereka… dipenjara karena mereka dianggap.. penyihir.”
Seketika aku tersedak. “Penyihir?! Wow! Jadi kayak di Wizards Of Waverly Place, dong! Ihihiw! Aku mau jadi Alex Russo. Dia cantiik! Terus, aku juga mau punya temen seperti Harper Finkle, aku suruh dia buatkan baju Spaghetti untuk Greyson,”
“Swift?! Kenapa omongan kita jadi nggak nyambung begini, hah? Mau dengar atau tidak?!”
“oke.. LANJUTKAN!” *gayaesbeye*
“Baiklah, orangtuamu ada di desa Meillenne, dan disitu masyarakatnya  masih percaya sama mitos mitos gaje begitu, taulah kan?! Nah, orangtuamu bisa celaka, kalau kamu tidak menyelamatkannya. Oiya mereka dituduh menjadi penyihir karena telah menghilangkan batu suci di desa Meillenne. Nama batunya Stone Of Clitth.”
“Clitth? Nama yang lucu!”
“Sst! Itu batu keramat! Diambil dari nama dewa! Tidak ada yang tau dimana letak kunci untuk membuka lemari berisi Stone Of Clitth! Tapi, entah bagaimana mereka membukanya, lalu batu itu dimainin sama Austin yang masih kecil, lalu hilang. Batu itu ada di kantor pemimpin Meillenne. Lord Gacquette.”
“Lord? Gasalah? Ngapain mereka di kantor Lord Gaket? Apa namanya itu?”
“Mereka mendaftar menjadi penduduk dari Desa itu. Emang harus daftar kok, aneh ya! Aku harap kamu bisa ikut aku kesana, Swift! Nanti kamu harus cari Stone Of Clitth itu untuk membebaskan keluargamu,”
“Ehm, panggil aku Taylor saja, atau Tay. Eh kamu itu cowok atau cewek sih?!”
“Aku cowok, Tay! Woy! Namaku David Collin Clidford. Panggil aja David atau Collin.” Ia membuka masker dan kacamatanya. Nggak terlalu jelas sih mukanya, tapi yang jelas cowok ini cute ternyata! :3
“Oke, Dav, aku pulang dulu ya. Sebelum orang tua angkatku tau,”
“Oke, pulang sana! Ini sudah malam. I wanna know you again, Tay, besok ketemuan yuk? Dimana?”
“Melody Café. Jam 4 sore ya, bye!” “Bye!”

15 menit kemudian…
“Taylor?! Habis dari mana aja sih?! Kita khawatir nyariin kamu, tau!”
Mrs. Jeanne menatapku galak. Aku nggak mungkin jujur. Aduh, aku harus boong, deh-_-
“Mencari Dompetku, tapi tidak ketemu,” bohongku.
“Hhh… anak teledor. Yasudah sana tidur!”
Aku menaiki tangga. Aku curiga deh, jangan-jangan….

~masih berlanjut :)

I Keep My Eyes Open #1



Aku menatap keluar jendela. Banyak anak kecil yang bermain bersama. Satu-satunya kata adalah… iri. Kenapa iri? Masa kecilku tak sebahagia mereka. Mereka punya teman, mereka anak yang lumayan kaya. Aku? Mendapat satu orang teman saja rasanya luar biasa.
“ Kak Taylor! Ngapain sih nempel didepan jendela gitu?! Ayo ah, kita main!”
“Greyson! Aku capek ah main terus! Bye, yah, aku mau masuk kamar!”
“Taylor! Kamu membantah ya?! Sudah syukur kamu bisa diterima disini, eh malah melawan, temani Greyson main sana!” seru Mrs. Jeanne, dari atas.
Dengan malas aku menemani Greyson ke kamarnya.
“Maumu apa sih?! Jangan memaksaku terus dong..” kataku.
“Memaksa? Aku gak sejahat itu, kak! Aku Cuma perlu temen doang! Mom aja yang terlalu, gimana.. gitu. Aku kan juga tadi Cuma bercanda!” kata Greyson.
“Oh Yaudah deh kalo gitu. Nonton yuk! Mau nonton apa Grey?”
“HarrPott yah! Sini aku puterin DVDnya,” lalu Greyson menyetel dvd itu. Aku terdiam saja. Aku sejujurnya nggak ada hubungan kakak-adik sama Greyson. Orangtuaku, adikku yang asli, Austin, hilang entah kemana saat aku kecil, dalam kecelakaan pesawat. Aku beruntung, karena saat itu aku yang masih kecil ada dalam gendongan seorang pramugari, dan mendarat selamat di pulau kecil, dan lalu dievakuasi. Sementara keluargaku, mereka hilang di laut, dan sampai sekarang belum ketemu. Terkadang, aku browsing info tentang keluargaku, keluarga Swift. Tapi tidak ada info samasekali. Aku pun diadopsi oleh sebuah keluarga yang belum mempunyai anak. Tapi tak lama setelah aku diadopsi, mereka mempunyai anak, namanya Greyson Chance.
Sejak saat itu, sepertinya orang tua angkatku ingin mengusirku dari rumah. Tapi Greyson tidak. Ia berusaha agar aku tetap tinggal serumah dengannya. Yah, agak sulit memang hidup seperti ini. aku juga harus berterima kasih kepada bocah 13 tahun ini.
Oiya, sebelumya namaku adalah Taylor Alison Swift, umurku 15 tahun. (ceritanya masih 15 yaa XD) dan aku, aku bukan anak yang popular dan disenangi banyak orang, aku anak kuper, dan sering di bully. Hanya itu.
“Taylor! Bantu aku siapkan makan malam!” terdengar suara Mrs. Jeanne.
“I’m coming!”
Aku membantu Mrs. Jeanne menyiapkan meja. Beginilah setiap hari… aku suka digalakin sama Mrs. Jeanne dan Mr. josh. Nasib yak =p

SKIP
“Eh! Liat-liat dong, kalo jalan!” kata Brittanny galak. Aku nggak sengaja menyenggolnya, hingga barang-barangnya jatuh.
“Brit! I’m so sorry! Really sorry! Aku kan nggak sengaja, umm.. aku harus ngapain biar aku nggak, yah.. nggak di … hukum?”
“Taylor?! Kamu kira aku siapa hah?! Kamu menjatuhkan tas yang baru kubeli di Prancis minggu lalu, ahhh! Sial! Gadis kampungan! Gak punya teman!”
Kalau begini, mending aku yang mengalah. Aku pergi ke kelas saja. Brit adalah gadis paling popular disini, sangat popular hingga bersikap seperti ratu.


I just wish, I have teleportation spell
I just wanna go to somewhere beautiful
I just wish to see them, maybe the last, but that’s not a big problem.
I miss them, I need them.
Okay, I don’t have them, but It’s better if I have best friend
Well Then, I don’t have any one.
God, what is surprise behind all of these things?
I know there is some surprises waiting for me.
Please god, give me someone who wants to stand by my side,
Please.


Aku menutup buku tulisku begitu Ms. Callington masuk ke kelasku. Membawa seorang gadis berambut keriting. Yeah, she’s beautiful! Anak baru, namanya Abigail Anderson, she’s damn pretty. Andai saja dia mau berteman denganku, pasti aku udah loncat-loncat dikasur, tuh, kesenengan. Tapi, harapanku hilang seketika ketika melihat ia duduk dikursi disamping Brittanny. Gawat tuh. Pasti Brit cerita macam-macam. Hmm…

DILAIN TEMPAT

GREYSON’S P.O.V

Bosen banget siang-siang gini, deh. Si Taylor belom pulang dari sekolahnya. (sekolah kita beda) aku jadi iseng, deh, pengen ngacak-ngacak kamar Taylor. Hahaha!
Aku ada firasat ada sesuatu yang unik di kamar Taylor, ternyata nggak ada! Cuma barang-barang remaja cewek biasa! Huh membosankan!
“Grey! Mom sama Dad pergi dulu ya, ada urusan, kamu berani kan, dirumah sendiri? Taylor sih, pulangnya lama banget! Sekalian aja nggak usah sekolah!”
“Mom! Aku udah 13 tahun! Jangan anggap anak kecil lagi! Lagian, taylor bukan babysitterku, dia sahabatku, tau!”
“Terserahlah, bye!”
Setelah kepergian mom, aku makin bosan, jadi deh, aku ngacak-ngacak kamar Mom yang nggak dikunci. Nakal bray! Sampai aku menemukan sesuatu di bawah meja rias mom, surat usang, tapi menarik perhatian.

We Love you taylor.  We miss you. Kita tahu kamu ada di alamat ini. come and save us, sweetie. Aku tahu ini jauh sekali, but,… you may need this,
[randomadress]
With love, Your parents and Austin


~berlanjut

Three Words, Maybe Four? #1



Entah mengapa, pagi ini aku terbangun sangat pagi. Aku terbangun dan melepas kertas di atas kepalaku. Tertulis : “Covergirl Photoshoot at 1 p.m ! =)” Bersama tanda tanganku. “Oh, aku ingat…” kataku pelan . “Taylor ! Taylor !” teriak seseorang dari bawah, terdengar seperti Austin, adikku. “Apa?” balasku. Austin tak menjawab. ‘Tok..Tok..Tok..” pintu kamarku diketuk. “Austin,” ucapku pelan. Aku membukakan pintu dengan cepat sambil melotot,masih dengan piyamaku yang hancur tertekuk-tekuk dan rambut yang belum sempat ku rapikan. Yea, karena kukira itu Austin. Tapi ternyata seorang cowok memegang bunga mawar sambil tertawa kecil. “Zayn?” kataku. Yea itu Zayn. Pacarku. “Hai Taylor..!” katanya sambil memberiku bunga mawar itu. “Ha-hai..” ucapku canggung. “Baru kali ini aku melihat sosok Taylor Swift memakai piyama dengan gaya rambut terbaru-nya.. Hehe” ucapnya ramah  sambil tersenyum. “Kau ini ! Ini bukan gaya rambut terbaruku !” kataku. “Yea, aku tau Taylor..” katanya. Diam sejenak. “Omong-omong, mengapa kau datang ke rumahku sepagi ini ?” Tanyaku. “Nggak papa, tadi aku hanya mengantar Niall ke McD. Dan kukira rumahmu tidak jauh dari McD… Iya,kan Tay?” ucapnya sambil memegang daguku. “Bolehkah aku ganti baju dulu?” tanyaku. “Tentu” dia berbisik di telingaku. Aku tersenyum. “Tay?” tanyanya saat aku mau menutup pintu. “Apa?” balasku. “Aku harus menjemput Niall. Kita ketemuan di Starbucks jam satu ya ?” katanya. “Oke..” kataku. Zayn pun melangkah menjauh dari kamarku. “Zayn !!” teriakku karena aku ingat sesuatu. “Apa?” tanyanya. “Jam satu aku ada pemotretan ! Gimana kalo jam tiga aja ?” kataku. Zayn hanya menacungkan ibu jari sambil mengedipkan satu mata, lalu pergi.
***
1p.m
Aku memutar suara Zayn saat menyanyikan laguku. Suara Zayn saat menyanyikan lagu You Belong With Me sebelum pemotretan. Aku juga memutar lagu One Direction, Selena, Miley, Demi , dan lagu ku. “Sudah, Taylor ?” Tanya fotografer yang tampak tak sabar. “M-hm” aku mengangguk. Aku mulai melakukan beberapa pose. “Yeah ! Angkat dagumu ! Ya ! Coba melompat ! Lepas topimu ! Senyum!” Ucap fotograferku. “Stop!” katanya. “Kau boleh istirahat sebentar. Sebentar lagi ganti scene” katanya. “Oke” kataku. Fotograferku langsung memainkan HP. Sepertinya meng-update status. Aku meneguk segelas air, lalu meraih HPku. Ada dua pesan masuk. Satu dari Zayn, satunya dari Austin. Aku membuka sms dari Zayn. “Teman-temanku juga ikut ke Starbucks, Honey. xx” Aku tersenyum. Aku akan bertemu One Direction, haha… Itu hal biasa menurut artis lain, tapi menurutku tidak. Karena Zayn. Lalu aku membuka sms dari Austin. “Mengapa kau tak membuat lagu untuk Zayn?” Aku berpikir sejenak. “Lagu ? Hm.. Nanti saja kupikirkannya.” Balasku ke Austin. “Taylor !” panggil penata busanaku. Aku menuju ke tempatnya. Aku melanjutkan pemotretanku.
02.45 p.m
“Fotomu sudah ada yang di cetak.” Kata fotograferku. “Benarkah ?” Tanyaku. “Iya, kau boleh mengambil semuanya. Ini.” Ujarnya sambil menjulurkan beberapa foto. “Makasih. Aku pulang, dadah..” kataku. Aku memasuki mobilku. “Starbucks.” Ujarku kepada sopirku. Tanpa menjawab dia langsung mengantarku kesana.
Sesampainya di Starbucks aku mencari Zayn dan ‘Kawan-kawannya’ . Tapi aku tak menemukan mereka. “Mungkin mereka belum datang.” Kataku pasrah. ‘Bip..Bip’ Handphone ku berbunyi. Ada sms dari Zayn. “13” hanya angka kesukaanku yang terdapat di smsnya. Aku langsung berpikir dia hanya menghabiskan pulsa untuk meng-smsku. Aku duduk di bangku paling dekat karena aku capek. “Permisi, tolong pindah di bangku nomor 13, bangku ini masih kotor” kata salah satu pelayan. Aku pun berjalan menuju bangku nomor 13 dengan malas. Yea, karena aku capek. “Hei Taylor!” ucap Zayn. “Duduklah” katanya lagi. Ternyata dia duduk di bangku nomor 13 bersama temannya. “Kukira kau akan langsung menuju sini saat aku sms kamu.” Kata Zayn. “Maaf aku nggak paham, aku capek banget habis pemotretan..” kataku. “Iya, aku paham,kok… Aku tadi juga udah manggil pelayan.” Katanya lagi. “Hey Taylor !” ujar Louis. “Apa?” tanyaku sambil menengok Louis. “Zayn punya kejutan untukmu !” kata Harry . “Dia sudah mempersiapkan ini dari minggu lalu ! Dia membungkusnya sendiri selama 5 hari ! haha!” Lanjut Liam. “Diamlah!” kata Zayn. “Benarkah? Kejutan ?” tanyaku pada Zayn.  “Ini..” kata Zayn sambil memberikan kado yang sangat besar dan bungkusan nya agak… Hancur . Aku tersenyum. “Ayolah! Kapan makan nya? Aku lapar ! Kau janji akan mentraktirku Zayn !!” Ujar Niall. Liam,Harry dan Louis langsung mencubit pipi Niall, menarik telinganya dan menghancurkan gaya rambut Niall. “Aw- ! Sakit !” ujar Niall . “Kalau sakit, jangan pernah menghancurkan momen romantis LAGI !” teriak mereka bertiga pada Niall. “Maaf !” ucap Niall dengan nada tanpa dosa. “Hahaha, kalian lucu ! Hahaha !” Aku tertawa melihat kejadian barusan ini. “Dan kalian juga kompak,” lanjutku. “Ayo kita makan, Zaayynn..” ucap Niall pelan, tapi aku mendengarnya . “Pelayan !” teriak Zayn pada pelayan yang tadi menyuruhku pindah meja. “Pesanan yang tadi sudah saya pesan untuk meja nomor 13 tolong diantar sekarang.” Ujar Zayn cepat, tapir amah. Dan juga, pupilnya membesar. Pelayan itu mengangguk, lalu mengisyaratkan : Call Me :) . Dasar ! Pasti pelayan itu Playgirl.
Pesanan kami diantar oleh pelayan itu lagi. Aku bosan. Kelihatan nya pelayan itu sengaja mendekati Zayn. Di pesanan Zayn ada kertas. Sepertinya dari pelayan itu. Aku sempat melirik kertas itu. Semacam nomor HP. “Um, boleh aku Tanya sesuatu padamu?” tanyaku pada pelayan itu. “Iya?” tanyanya sopan. “Siapa namamu?” tanyaku. “Perrie”

Selasa, 30 April 2013

Arti Sahabat

Anton dan Irvan merupakan sahabat baik. Mereka telah bersahabat sejak kecil, tapi suatu hari ketika keluarga Irvan jatuh miskin, Anton pun tak ingin lagi bersahabat dengan Irvan. Suatu siang ketika  Irvan, Antonio, Suhailah, Nia ,dan Fikri sedang berada di kelas untuk bersih-bersih sebelum pulang sekolah, Irvan dengan berat hati mengatakan kepada Anton untuk membantunya. Karena menurutnya Anton lah yang bisa menolongnya dan Anton merupakan sahabatnya, malah yang terjadi adalah Anton balik menghina Irvan. Kasihan Sekali Dia.

Irvan: Anton, bisakah kau menolongku sedikit saja?
Anton : Apa? Menolongmu? Kau pikir kau itu siapa yang harus aku tolong?
Irvan : Kenapa dengan mu Anton? Bukankah kita sahabat? Masa kau sudah lupa dengan itu?
Anton : Sahabat? Maaf ya aku tidak punya sahabat seperti mu yang miskin. Aku hanya mau bersahabat dengan orang yang kaya.
Suhailah : kenapa dengan kalian berdua? Sepertinya sedang bermasalah gitu.
Irvan: Tidak ada apa-apa kok. Kita berdua baik-baik saja. Ya kan Anton?
Anton : Baik-baik saja? Gini ya Suhailah, tadi si miskin ini meminta bantuan ke aku. Tapi sayangnya aku tak ingin membantu orang seperti dia. Mana dia ngaku-ngaku sahabat aku lagi? Ogah deh.
..........( Irvan pun pergi karena mendengar perkataan Anton seperti itu )……….
Suhailah : Jangan begitu Anton. Bukannya kau dan Irvan memang bersahabat dari kecil? Masa karna sekarang Irvan dan keluarganya jatuh miskin, kau tidak mau lagi bersahabat dengannya. Bukannya saat-saat seperti ini kau bisa tunjukan ke dia, kalau kau memang sahabatnya. Bukan malah meninggalkannya.
Fikri : Betul itu kata Suhailah. Seharusnya kau sekarang menyuport dia, bukan menghina dia seperti itu. Kasian kan dia.
Nia : Betul itu. Sahabat seperti apa kau ini?
Anton : Kalian pikir siapa kalian yang berani-berani menasehatiku? Sok baik! Terserah aku dong mau berbuat apa. Urus saja diri kalian masing-masing.
Fikri : Kita bukannya bermaksud menasehati kamu atau sok baik. Tapi kita tidak mau persahabatan kamu dan Irvan berakhir seperti ini.
Anton : Halah itu bukan urusan ku dan juga kalian. ( Anton pun langsung pulang )
Nia : Setan apa yang merasuki anak itu? Bisa-bisanya dia berbuat begitu kepada Irvan. Bukankah selama ini dia yang selalu saja membela-bela Irvan ketika ada masalah?
Suhailah : ya itu hanya dia yang tahu. Tapi satu hal yang akhirnya kita tahu, Anton hanya mau berteman dengan orang yang Kaya.
Fikri : Pantas saja.
Nia : Pantas apanya?
Fikri : sudahlah jangan dibahas lagi, mending kita pulang saja.
Nia : betul itu.

keesokan harinya Mereka kembali masuk kesekolah seperti biasa, tetapi tidak dengan Irvan. Hal ini pun terjadi selama 2 minggu berturut-turut. Pada akhirnya ketika mereka berempat sedang dalam perjalanan kesekolah, dengan tidak sengaja mereka bertemu dengan Irvan di pinggir jalan yang sedang mencari barang bekas.

Suhailah : Hey bukannya itu Irvan?
Fikri : ia benar itu Irvan. Sedang ngapain dia? Bukannya masuk sekolah malah keliuran seperti itu.
Nia : ia benar. (Nia pun langsung menarik Anton yang jalan di belakangnya dan sedang asyik dengan Iphone-nya) Liat itu? Apa yang sahabatmu lakukan?
Anton : haha… Pasti sedang mengais-ngais sampah. Namanya juga orang miskin.
Nia : Apaan sih. Ayo kita samperin saja dia.
Suhailah : Irvan, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tidak masuk 2 minggu ini?
Irvan : (dengan Kaget) aku? Ya seperti yang kalian liat.
Anton : aku bilang juga apa. Pasti dia sedang mengais-ngais sampah. Seperti tidak tahu saja kalian kerjaan orang miskin.
Fikri : sudahlah Anton, begitu-begitu Irvan itu sahabatmu.
Suhailah : Apa-apaan sih. Kenapa kau tidak masuk sekolah lagi Irvan?
Irvan : Begini, orang tua ku tidak punya uang untuk membiayai aku dan adikku untuk sekolah. Sedangkan adikku masih mau sekolah, jadi aku mengalah saja untuk adikku. Biar adikku yang sekolah dan aku membantu orang tua ku untuk menyambung hidup.
Nia : Mulia betul hati mu sobat.
Anton : haha. Mulia apanya? Dia cuma mau cari muka tahu? kalian ini gampang sekali dibodohi sama dia.
Irvan : Tega sekali kau berkata begitu pada ku. Aku memang sekarang sudah miskin, tapi aku masih punya perasaan. Kalau kamu tidak mau bersahabat lagi dengan ku ya sudah itu tidak jadi masalah buat ku, tapi jangan kau hina aku dengan kata-katamu itu. Satu lagi, aku tidak pernah menyesal pernah berkenalan dengan mu. Tapi itu merupakan pembelajaran bagi ku. Terima kasih Anton. (Irvan pun lari secepat mungkin meninggalkan mereka berempat dengan perasaan yang bercampur aduk)
Suhailah : sudah puas kau menyakiti dia? ingat Anton, suatu hari nanti kau juga akan merasa apa yang Irvan rasakan sekarang.
Nia Dan Fikri : Betul itu.
Anton : haha. Itu tidak mungkin. Keluarga ku tidak mungkin jatuh miskin seperti dia. Toh, Keluargaku memiliki banyak usaha yang menghasilkan banyak uang. Dan tidak akan habis untuk 5 generasi. Haha ( sambil tertawa Anton pun jalan meninggalkan mereka bertiga)
Nia : Sombong sekali itu anak. Semoga hidupnya baik-baik saja.
Suhailah : ya semoga saja. Memang terkadang kita harus menyadari bahwa ada orang tertentu yang bisa tinggal dihati kita, namun tidak dalam kehidupan kita
Fikri : ya betul itu. Dan semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dengan Irvan.
……….( mereka bertiga akhrinya melanjutkan perjalan ke sekolah )……….

 Hari itu merupakan hari terakhir mereka bertemu Irvan. Dan ketika semuanya telah terjadi, Anton pun merasakan apa yang dulu Irvan rasakan. Keluarganya bangkrut karena ditipu oleh orang lain. Tapi sayangnya Anton tidak terima dengan hidupnya yang miskin, dan ia beranggapan bahwa semua ini salah Irvan.


INI ADALAH SEBUAH CERITA YANG PERLU KITA RENUNGKAN DALAM HATI KITA, BAGAIMANA ORANG SUSAH DENGAN MELANJUTKAN HIDUPNYA SEPERTI ITU. SEDANGKAN ORANG YANG BAHAGIA SEENAKNYA SAJA MENGHINA ORANG SUSAH ITU.

Arti Sahabat 2

Bintang yang setia pada malam, begitu pula kesetiaan embun menemani pagi. Matahari yang tak pernah lelah terangi dunia ini. Seperti itulah persahabatan, selalu setia tanpa diminta. Saling mengerti tanpa harus memohon. Tak ada satupun orang di dunia ini yang hidup tanpa persahabatan, persahabatan adalah kisah terindah yang tak terlupakan bagi setiap insan yang pernah merasakannya.
Luna, Satrya, Olive, Bondan dan Meta sedang duduk bergerombol bersama. Mereka mengobrol, bernyanyi sambil sesekali tertawa lantang, saling menjahili satu sama lain. Sungguh seperti sebuah keluarga yang harmonis.
Karena merasa iri hati, Lexa dan Tita yang tak mempunyai banyak teman datang untuk mengacaukan suasana.
Lexa : “Idih…!! suara pas-pasan aja sok mau nyanyi! Diem aja deh mendingan,” (dengan wajah menghina)
Bondan : “Eh.. suka-suka dong! Kayak suara kamu aja yang paling enak, KD kalah cempreng tuu!”
Semua anak di tempat itu tertawa keras, kecuali Lexa dan Tita yang rautnya berubah menjadi tak karuan. Bondan dan kawan-kawannya pun melanjutkan obrolan mereka lagi tanpa menghiraukan Lexa dan Tita.
Lexa dan Tita : (pergi meninggalkn tempat dengan wajah berlipat)
Bondan : “Hmm.. sorry fren, aku balik duluan ya? Ada janji buat latihan, maklum mau ada konser amal kecil-kecilan gitu..”
Meta : “Duh, sibuknya! Ya udah buruan berangkat, ati-ati!” (sambil melambai-lambaikan tangan)
Olive : “Waduh.. panggilan alam nih, aku ke toilet dulu yah..? (buru-buru meninggalkan anak-anak yang lain)
Luna : “Hmm, dateng lagi deh ‘langganannya’! Dasar gak berubah.. haha..”(menggeleng-gelengkan kepala)
Meta : “Hahaha, biasa lah, Na. Kalo nggak gitu, bukan Olive namanya,”
Luna : “Eh, haus nih.. minum es enak kali ya??”
Satrya : “Iya juga ya. Oke kalo gitu aku beli es dulu ya, tunggu di sini aja sama Meta,” (berlalu pergi meninggalkan Luna dan Meta)
Meta : “Na.. sebenernya beberapa bulan ini ada yang beda dari aku, aku udah nggak bisa nyembunyiin ini semua. Dan menurutku cuma kamu yang bisa jaga rahasia ini.”
Luna : “Rahasia? Cerita aja, Ta.. kita kan temenan udah lama. Lagian aku udah siap kok buat jadi pendengar yang baik,” (berusaha meyakinkan Meta)
Tanpa mereka sadari, Satrya berdiri di kejauhan dengan beberapa bungkus es di tangannya. Satrya melihat Luna dan Meta sedang asyik bercerita, dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. Ia melamun. Dan saat tersadar dari lamunannya, ia menuju Meta dan Luna, dan tersentak ia terkejut mendengar ucapan Meta.
Meta : “Aku.. su—ka Bondan!!” (dengan terbata-bata)
Satrya : “Hah..?! Meta suka Bondan??” (berkata lirih)
Kebetulan Olive juga sudah datang.
Olive : “Hah?!” (datang tiba-tiba dan mendengar ucapan Meta yang membuatnya kesal)
Di saat itu pula pertengkaran terjadi.
Luna : “Eh, kalian udah pada balik!” (sambil tersenyum dengan sapaan halus)
Olive : “Ta.. serius kamu suka Bondan??”
Meta : “Hmm.. ngomong apa sih, kamu..? (pura-pura tidak tahu)
Olive : “Halah..!! gak usah bo’ong deh.. aku denger kok!” (dengan nada agak tinggi)
Luna : “Kamu salah denger, kali?” (berusaha menengahi)
Olive : “Ta, kayaknya kamu juga harus tahu! Aku suka ama Bondan udah lama banget, kamu nggak boleh gitu dong!! Kayak nggak ada yang lain aja?!” (marah-marah)
Satrya : “Heh udah diem semua!!” (berusaha menandingi nada tinggi Olive dan Meta)
Meta : “Oh gitu ya?! Berarti kamu tuh yang ngerebut gebetan temen sendiri, kamu aja yang naksir ama cowok laen, ngapain pake nyuruh aku??” (balik marah)
Keadaan semakin parah karena tidak ada yang mau mengalah.
Luna : “Udah, udah… jangan bertengkar cuma gara-gara masalah cowok!” (berusaha melerai)
Satrya : “Kita udah temenan lama, jangan sampai semua rusak cuma karena masalah sepele kayak gini!” (berkata paling bijak)
Olive : (meninggalkan teman-temannya dan pergi menyendiri)
-Script 1-
Sialnya, dua orang yang sangat membenci Bondan cs mengetahui perkara ini. Alexa memanfaatkan keadaan ini untuk menghancurkan persahabatan mereka berlima. Dengan satu-satunya teman setia yaitu Tita, mereka mempengaruhi Olive supaya memusuhi dan membenci semua sahabatnya itu.
Olive : (duduk termenung, sendiri, dan terdiam)
Alexa : “Ehm.. kok cemberut sih??” (berusaha menarik simpati Olive)
Tita : “Ada masalah ya, Liv?”
Olive : “Katanya sahabat, masak harus naksir cowok yang sama?! Bete banget, kan??” (berkata dengan nada ketus)
Lexa : “Sabar aja deh. Mending sementara nggak usah temenan deh sama mereka. Nanti kan jadi saingan yang nggak sehat!” (merayu)
Tita : “Iya, bener tuh,” (meyakinkan Olive)
Olive : “Gitu, ya..?”
Lexa : “Gini aja, mending mulai sekarang kamu gabung ama kita berdua. Nanti kita akan bantu kamu ngalahin si Meta gingsul itu!”
Tita : “Iya, bener, Liv. Kita bela kamu kok”
Olive : “Emang boleh..??”
Tita dan Lexa : “Ya boleh, lah!!”
Olive hanya tersenyum, entah benar atau tidak keputusannya ini, dia tidak begitu peduli saat itu.
-Script 2-
Di sisi lain, keadaan rumah tangga orang tua Luna sedang dilanda pertengkaran hebat. Papanya yang selalu marah-marah bersikap keras dan memukul Mama Luna. Sementara itu Aldo, adik Luna hanya bisa diam tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Papa Pratama : “Kamu ini bisanya bikin susah suami aja!!” (membentak-bentak Mama Mey)
Mama Mey : “Aku salah apa, Pa..??”
Papa Pratama : “Kerjaan kamu seharian cuma shopping, arisan, ngumpul sama temen-temen. Nggak pernah ada di rumah. Liat ni anak kamu jadi nggak keurus!”
Mama Mey : “Tapi Papa juga sibuk sendiri sama klien-klien di kantor. Nggak peduli sama istri dan anak-anak!!” (menangis dan memeluk Aldo)
Papa Pratama : (Plaak..!! tamparan keras singgah di wajah Mama Mey)
Aldo : “Ma, Papa kok mukul-mukul Mama..?” (dengan penuh kepolosan)
Mama Mey : (menangis)
Di saat itu pula Luna datang dan terkejut melihat semua yang terjadi.
Luna : “Mama…?!” (datang memeluk Mama Mey)
-Script 3-
Keesokan harinya..
Satrya menceritakan semua yang terjadi kemarin antara Meta dan Olive. Sekejap terkejutlah Bondan mendengar semua itu.
Satrya : “Menurutku kamu harus cepet bikin keputusan. Kasih kepastian buat mereka berdua. Aku nggak mau mereka bertengkar terlalu lama.”
Bondan : “Oke, oke..! aku bakal berusaha jelasin semuanya biar mereka nggak bertengkar sia-sia,”
Bondan pun berusaha menemui Meta dan Olive hari itu juga. Namun sayang, hanya Meta yang mau menerima keputusan Bondan, sedangkan Olive lebih memilih menghindarinya.
Bondan : “Ta, Satrya udah nyeritain semua ke aku tentang yang kemarin. Bener kamu suka aku..?” (berusaha memastikan)
Meta : “Satrya nggak bohong kok soal yang kemarin itu!”
Bondan : “Gini, Ta. Sebelumnya aku minta maaf. Soalnya gara-gara aku kamu jadi tengkar ama Olive. Bukannya apa-apa, tapi buat waktu dekat ini aku lagi nggak pengen mikirin cewek. Aku masih mau serius di dunia musikku,” (menerangkan dengan bijaksana)
Meta : “Oke. Aku ngerti kok. Cuma kayaknya sekarang Olive udah terlanjur terpengaruh sama Alexa. Kayaknya bakal sulit buat ngembaliin dia kayak dulu lagi,” (sambil mendesah putus asa)
Olive, Lexa, dan Tita : (berjalan melewati Bondan dan Meta, namun bersikap tak acuh dan sama sekali tak peduli)
Bondan : “Olive?”
Olive : (berjalan terus tanpa henti)
-Script 4-
Mendekati Aldo adalah salah satu cara yang dipakai Satrya untuk menarik perhatian Luna. Hari ini pun Satrya akan mengunjungi rumah Luna. Dan di perjalanannya menuju rumah Luna, ia melihat Aldo tergeletak tak sadarkan diri di pinggir jalan. Sepertinya ia menjadi korban tabrak lari. Cepat-cepat Satrya membawa Aldo ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit…
Satrya : “Halo, Luna? Adek kamu di RS. Dia habis ketabrak kendaraan, cepetan kamu ke Rumah Sakit—mm, Cempaka Husada,” (langsung berbicara begitu suara di seberang telepon menjawab)
Luna : “Hah, sekarang keadaannya gimana?!” (panik)
Satrya : “Udah tenang aja, yang penting kamu sekarang cepetan ke sini! Jangan lupa bilangin Mama dan Papamu!”
Dan tak lama kemudian Luna datang terengah-engah, sambil berlari tergesa-gesa.
Luna : “Ya ampun…. Aldo!!” (begitu melihat Aldo)
Satrya : “Dokter udah periksa dia, katanya luka di kepalanya itu nggak terlalu parah, kok,” (berusaha menenangkan Luna)
Luna : “Syukur deh kalo gitu..” (mendesah lega)
Satrya : “Hmm.. aku ke toilet dulu ya. Kamu di sini aja jagain Aldo sambil nunggu orang tuamu dateng,”
Luna : “Iya, tapi jangan lama-lama. Aku takut sendirian di sini,”
Satrya : “Oke,”
Saat Satrya berada di toilet, dia ingat akan teman-temannya yang pasti juga harus diberitahu tentang ini. Tanpa menunggu lagi, Satrya segera menelepon Meta dan Bondan.
Setelah selesai memberitahu mereka, Satrya keluar dari toilet dan hendak berjalan kembali ke ruang rawat. Saat ia berjalan, tiba-tiba bahunya tertabrak dengan bahu seseorang. Betapa kagetnya Satrya saat melihat ternyata bahu yang ia tabrak adalah bahu Olive.
Olive : “Aduuh…!” (sambil memegangi bahunya)
Satrya : “Oh, maaf, maaf.. Nggak sengaja, lagi buru-buru,”
Olive : “Iya, iya. Nggak apa-apa kok,”
Satrya : “.. lho? Olive?? Ngapain kamu di sini..?”
Olive : “Eh, Satrya.. Iya, aku habis nganterin Mama check up, tapi aku ada perlu, jadi Mamaku pulang duluan. Terus.. kamu sendiri nagapain di sini?”
Satrya : “Ini, Aldo adiknya Luna ketabrak, sekarang lagi dirawat di kamar 555. Ini aku lagi nungguin Bondan ama Meta dateng,”
Olive : “Oh…”
Satrya : “Kamu masih marah sama Meta? Sama kita juga?”
Olive : “Ngg… nggak sih. Agak sebel aja. Emang kenapa?”
Satrya : “Liv, aku cuma mau beri tau, Alexa itu bukan orang yang baik. Dia manfaatin keadaan kita yang lagi retak ini dengan menghasut kamu. Inget Liv, kita udah lama sahabatan. Kita semua tau siapa aja yang layak diajak temenan. Dan Alexa nggak termasuk dalam kategori itu. Dia itu cuma mau ngehancurin kita aja..”
Olive : “Tapi si Meta itu lho..” (memasang wajah kecut)
Satrya : “Bondan udah jelasin ke Meta dan Meta ngerti, kok. Masa kamu nggak bisa ngerti??”
Olive : “Mmmh.. gimana ya?? Iya sih, aku liat Alexa itu nggak baik. Mm..”
Satrya : (menunggu Olive sambil menatap matanya tajam)
Olive :”.. mungkin aku pikir aku minta maaf aja ya ama Meta…?”
Satrya : “Naah, gitu dong! Ya udah, kamu ikut aku aja ke kamarnya Aldo. Nanti kita tunggu Meta ama Bondan dateng,”
Olive : “Ya udah deh, yuk. Eh.. tapi aku ke toilet dulu ya. Kamu jalan aja duluan, ntar aku nyusul kok,”
Satrya : “Oke, cepetan ya!” (langsung pergi)
Sementara itu…
Mama Mey : “Aldo!! Anakku sayang,”
Papa Pratama : “Liat ini! Ngurus anak aja nggak becus!!” (menyalahkan Mama Mey atas apa yang terjadi)
Mama Mey : “Ini juga salah Papa! Selalu sibuk sampai nggak punya waktu buat nemenin Aldo main!” (balik menyalahkan)
Luna : “Udah berhenti..!! Mama sama Papa kelakuannya sama aja! Aldo lagi sakit masih aja bertengkar, Luna capek, Ma, Pa, dengerinnya!! Masalah itu gak bakal selesai kalau nggak diselesaiin baik-baik.. Yang ada kejadian malah tambah berantakan, coba deh Papa sama Mama ngertiin aku sama Aldo. Kita nggak pengen Papa-Mama bertengkar terus! Luna mohon dong Pa, Ma!!” (sedikit menangis)
Aldo : “Mama.. Papa.. Kak Luna..” (tersadar dari pingsannya)
Papa Pratama : “Mama.. Aldo.. Luna.. Papa minta maaf ya? Papa janji bakal nyediain waktu buat ngumpul bareng-bareng kalian semua. Papa sadar selama ini Papa terlalu sibuk di kantor,” (berbicara setelah termenung sejenak)
Aldo : “Iya.. kita semua maafin Papa! Tapi Papa janji ya gak boleh mukul Mama lagi..?”
Papa Pratama : “Iya,” (memeluk istri dan anak-anaknya)
-Script 5-
Kemudian, Satrya telah kembali dari toilet, bersamaan dengan Meta dan Bondan yang baru datang. Tak lama kemudian, Olive mengetuk pintu..
Olive : “Ehm.. aku boleh masuk, kan?” (sedikit ragu)
Aldo : “Eh, Kak Olive. Nggak papa masuk aja, Kak!”
Olive : “Sebenernya.. selain mau jenguk Aldo, aku dateng juga untuk minta maaf atas semua kesalahanku sama kalian selama ini. Satrya udah jelasin semua ke aku. Kalian mau, kan, maafin aku..?”
Meta : Aku juga minta maaf, soalnya udah ngomong kasar ke kamu. Maafin aku juga, ya?”
Bondan : “Nah, kalau gini kan lebih enak, ya kan, Fren??”
Satrya : “Aku juga seneng kalo kita semua akur lagi kayak dulu,” (sambil tersenyum)
Luna : “Makanya, laen kali kalo mau naksir cowok nggak usah pake acara kompakan..!”
Semua : (tertawa bersama-sama)
Tita : “Eh, sorry kalo ganggu. Sebelumnya aku mau minta maaf sama kalian. Selama ini aku salah pilih temen. Aku sadar Lexa cuma manfaatin aku aja. Kalian mau, kan, nerima aku jadi teman kalian??” (tiba-tiba muncul!)
Semua : “Ya boleh, lah!!”
Sesaat kemudian, handphone Tita berdering nyaring, mengejutkan semua orang… Terkejutlah semua orang dalam ruangan itu saat mendengar berita bahwa Alexa mengalami kecelakaan!
Meta : “Lho kok..?!”
Bondan : “Terus keadaannya gimana sekarang..?”
Olive : “Di Rumah Sakit mana?”
Luna : “Parah apa nggak?”
Aldo : “Alexa itu siapa…?”
Tita : (hanya diam mendengarkan semua pertanyaan itu)
Satrya : “Gini aja. Sekarang biar Tita ceritain semua yang dia tahu tentang keadaan Alexa sekarang,”
Aldo : “Iya, ayo cerita. Aldo juga pengen tahu!”
Tita hanya diam. Dia masih shock dengan banjir pertanyaan barusan.
Olive : “Titaaa ??”
Tita : “Hmm.. jadi gini, sekitar satu jam yang lalu Lexa ceritanya mau ke sini. Dan tadi berita dari rumah sakit bilang kalo Lexa ditemuin jatuh di perempatan deket sini. Katanya keadaannya cukup kritis sih,”
Meta : “Rumah Sakit mana?”
Tita : “Emm, Cempaka apaa gitu, lupa aku—”
Bondan : “Cempaka Husada, Ta?”
Tita : “Nah itu! Bener!”
Bondan : “Ya ampun Taaa, itu kan Rumah Sakit ini! Ayo ayo kita tanya ruangan mana!” (semua orang menepuk jidat)
Olive : “Ya udah, sekarang kita bareng-bareng buruan cari. Om, tante, kita semua permisi dulu yah!!”
Dan tak lama kemudian mereka semua tiba di ruangan tempat Alexa dirawat.
Tita : “Lexa… kamu nggak apa-apa kan?” (paling antusias)
Alexa : “Aku udah agak mendingan kok.. makasih ya kalian semua udah mau jenguk aku..”
Meta : “Ya.. walaupun kita masih agak kesel ama kamu,” (sedikit ketus)
Bondan : “Udahlah.. yang kemaren nggak usah diungkit-ungkit lagi!”
Alexa : “Hhm, aku minta maaf yah, selama ini aku banyak banget salah ama kalian. Mau kan, maafin aku??”
Meta : “Iya, kita mau kok maafin kamu! Tapi ada syaratnya, lho!”
Alexa : “Apa syaratnya?”
Meta : “Kalo kamu udah sembuh nanti, traktir kita semua makan!!” (sambil tersenyum-senyum)
Luna : “Eitz.. satu lagi, adek aku juga diajak yah?” (merayu)
Semua : (tertawa bersama-sama)
Tak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Mereka semua tak pernah luput dari kesalahan. Oleh karna itu meminta maaflah jika merasa bersalah. Dan maafkanlah bila ada yang bersalah. Semua akan indah jika kita saling memaafkan satu sama lain.
THE END……

Pengikut

Total Tayangan Halaman